Jakarta, geninusa.or.id – GENINUSA lahir dari semangat membangun kemandirian santri melalui kewirausahaan yang berlandaskan nilai-nilai pesantren. Sejak berdiri pada 26 November 2019 di Surabaya, Gerakan Santripreneur Nusantara hadir sebagai wadah bagi santri dan pesantren untuk berkembang dalam dunia usaha, pendidikan, dan inovasi.
Berawal dari Semangat Perubahan
Gerakan Santripreneur Nusantara atau GENINUSA merupakan organisasi yang dibangun atas gagasan untuk mendorong santri agar tidak hanya memiliki bekal ilmu agama, tetapi juga mampu mengembangkan kreativitas, keterampilan, dan kemandirian ekonomi.
Berdirinya GENINUSA dilatarbelakangi oleh semangat para santri dan alumni pesantren yang memiliki visi untuk menciptakan ekosistem kewirausahaan dengan tetap berlandaskan nilai-nilai pesantren. Melalui gerakan ini, santri didorong untuk menjadi pribadi yang mandiri, kreatif, inovatif, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
GENINUSA didirikan di Surabaya pada 26 November 2019. Kehadirannya menjadi langkah untuk memperluas ruang bagi santri dan lingkungan pesantren agar dapat terlibat dalam dunia kewirausahaan secara lebih aktif dan produktif.
Para Tokoh di Balik Berdirinya GENINUSA
Perjalanan GENINUSA tidak terlepas dari peran para tokoh yang turut merintis organisasi ini. Berdasarkan dokumen sejarah GENINUSA, sejumlah nama tercatat sebagai pendiri organisasi, di antaranya KH. Soleh Baharuddin, pengasuh Pondok Ngalah, Pasuruan, Jawa Timur.
Selain itu, terdapat Dr. Muhammad Suhardi, M. Pd., Ust. Zikal Okta Syahtria, Ust. Abdullah Syahansyah, Ust. Ardi Restu Setiawan, Ust. Afig El Aziz Amali, Ust. Ricky Safrijal, Ust. Jefri al Buchori, Ust. Ari Hidayat, Ust. Moh Imamul Murtadho, Ust. Rizabun Ahyar, Ust. Suhedi, Ust. Jagad Riyadi, Ust. M. Aminul Wahib, dan Ustdzh. Dwi Sintia Susanti.
Para pendiri tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Keberagaman latar belakang wilayah ini menjadi bagian dari gambaran keterlibatan berbagai unsur dalam membangun gerakan santripreneur di Nusantara.
Mengembangkan Gerakan Santripreneur
Dalam perjalanannya, GENINUSA mengembangkan berbagai kegiatan untuk mendorong pertumbuhan kewirausahaan di kalangan santri dan pesantren. Sejumlah kegiatan yang tercantum dalam dokumen organisasi meliputi seminar dan lokakarya, pelatihan bisnis, serta pembangunan jaringan usaha santri dan pesantren.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan santri dalam mengenal, merintis, dan mengembangkan usaha. Pendidikan, pelatihan, pendampingan usaha, serta pengembangan kreativitas dan inovasi ditempatkan sebagai unsur penting dalam membangun semangat santripreneur.
Dengan pendekatan tersebut, GENINUSA berupaya menghubungkan potensi pesantren dengan peluang pengembangan ekonomi dan kewirausahaan.
Memperluas Jaringan dan Kolaborasi
GENINUSA juga mencatat perkembangan organisasi dengan menghimpun ratusan anggota yang tersebar di puluhan provinsi serta kabupaten dan kota di Indonesia, sebagaimana disebutkan dalam dokumen GENINUSA Reborn.
Dalam memperkuat ekosistem kewirausahaan santri, organisasi ini turut membangun kolaborasi dengan akademisi, pengusaha, pemerintah, komunitas, dan media berbasis teknologi.
Sejumlah daerah yang disebut dalam dokumen sebagai lokasi kehadiran kegiatan GENINUSA antara lain Bali, Blitar, Surabaya, dan Jakarta. Jangkauan tersebut menggambarkan upaya organisasi untuk menghadirkan gerakan santripreneur di berbagai wilayah.
Menuju Transformasi GENINUSA
Perjalanan GENINUSA terus diarahkan pada penguatan organisasi dan perluasan dampak gerakan. Dalam konsep pembaruannya, GENINUSA mengusung visi menjadi gerakan santripreneur yang progresif, mandiri, dan berdampak bagi Indonesia.
Visi tersebut diterjemahkan melalui lima misi utama, yaitu GERAK, GROWTH, GO DIGITAL, GOTONG ROYONG, dan GIVE IMPACT. Kelimanya menekankan penggerakan santri dan pemuda, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, transformasi digital, penguatan kolaborasi, serta pelaksanaan program sosial, ekonomi, dan filantropi.
GENINUSA juga merumuskan Sapta Cipta sebagai gagasan gerakan santri modern yang mencakup tujuh pilar: santri, entrepreneur, pemuda, kemandirian pangan, sociopreneur, digitalisasi, dan filantropi.
Ketujuh pilar tersebut memperlihatkan cakupan gerakan yang tidak hanya berorientasi pada kewirausahaan, tetapi juga pada pengembangan karakter, kepedulian sosial, pemanfaatan teknologi, dan kemandirian pangan.
Sejak berdiri di Surabaya pada 2019, GENINUSA membawa semangat untuk memperluas peran santri dalam kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat. Melalui penguatan kapasitas, jaringan, kolaborasi, dan inovasi, gerakan ini menempatkan santri sebagai bagian dari potensi pembangunan Indonesia yang mandiri dan berdaya saing. (*)

